Wednesday, March 11, 2015

Refleksi Kebingungan Pemikir Pemula

Tulisan kedua yang jeda waktu dari tulisan awal hampir sebulan lamanya. Mohon maaf, karena (pura-pura) kesibukan offline menjauhkan saya dari niat komtemplasi meskipun ada beragam ide mengenai apa yang akan saya tulis. Kata kontemplasi sebenarnya juga terlalu tinggi, karena yang saya butuhkan sebenarnya hanyalah mewujudkan ide ide yang berseliweran ke dalam sebuah tulisan, biasanya setelah secangkir kopi pahit dan beberapa ketukan dram dari Lars Ulrich ( baca : ngedengerin metallica ) membuat pikiran saya menjadi tenang dan fokus kembali.

Apa yang ingin saya tulis sekarang ?. Tidak lebih dari hasil mengamati proses lalu lalang kehidupan di sekitar saya yang berkutat antara ilmu marketing, menghabiskan waktu browsing di kantor, dan romantika cinta dari orang orang terdekat saya. Kali ini sebuah pengalaman ketika saya dan dua orang kolega kantor di tugaskan keluar kota dan harus menginap selama beberapa hari. Dinas luar dan harus tidur bareng sekamar dengan rekan kantor yang selama ini hanya kita kenal "luarnya" tentu akan memberikan perspektif baru bagi semua orang. Bahkan yang hanya sarapan atau makan malam bareng akan membuat kita bergumam ( dalam hati ) : oo, ternyata begini... Memang demikian bukan ?

Saya tidak berani menghakimi, dan tidak pernah ingin. 30 tahun hidup membuat saya mengerti bahwa segala sesuatu terjadi karena sesuatu, atau for something, dan bukan urusan saya apa yang orang orang lakukan, bahwa kadang saya tidak mengerti " mengapa " tapi tidak lantas membuat saya memutuskan dalam beberapa larik kalimat . Tapi perjalanan dinas kali ini mendatangkan sesuatu yang berbeda buat saya pribadi, dan saya pikir mungkin berguna untuk teman teman juga.

Saya ini gampang " gumunan " alias mudahnya, gampang kagum. Tunjukkan sesuatu yang menarik hati saya dan saya akan jatuh cinta. Dan saya sangat mudah jatuh cinta pada kehidupan ini sendiri. Bukan berarti labil, tapi saya sengaja membiarkan hati saya mudah gemetar ketika melihat sesuatu yang baru. Apakah itu buruk ? Tidak buat saya. Ini adalah salah satu cara untuk menjaga hati dari polusi apatisme, dari ketidak pedulian, dari hasrat memalingkan muka karena dunia memang indah tapi berat kan ya ?.

Baiklah, saya gampang gumunan dan saya tertarik pada hal hal filosofis misalnya Kant, Hegel, Marx, Camus, Descartes, dan atheisme. Dan saya bisa betah tidak tidur untuk ngobrol ngalor ngidul tentang hampir apa saja selama terkait hal hal di atas. Sungguh suatu kebetulan bahwa salah seorang kolega kantor ( yang selama di kantor malah tidak pernah ngobrol ) ternyata mempunyai pandangan yang sama dan saya yakin cakupan ilmunya jauh lebih luas daripada saya. Sepanjang malam saya menjadi sponge yang menyerap ilmu dan perspektif baru sambil sesekali melontarkan pemikiran saya atas beberapa theori yang sudah berumur ribuan tahun tersebut. Bukan menyangkal, hanya lebih mengepaskan dalam konteks dunia modern yang memang sudah carut marut  dan kompleks. Menyenangkan, membuat saya merasa menjadi anak kecil yang menemukan mainan baru. Gairah baru. Pandangan baru.

Sampai saatnya percakapan harus di akhiri dan kami berpisah menuju mimpi masing masing.

****

Setiap orang, setiap individu, pasti memiliki passion akan bidang bidang tertentu, musik, buku, aplikasi kosmetik, agama, atau bahkan dalam taraf ekstrim bisa berwujud sebagai manusia, misalnya tentu saja kegandrungan pada tokoh tokoh besar, yang kalau saja tidak takut terbakar api neraka pasti sudah menaubatkan tokoh ini menjadi nabi baru. Boleh melihat bagaimana kita semua tersihir pada pesona salah satu mantan presiden kita sendiri, ya kan, ya kan...

Menekuni apa yang menjadi passion kita, se ekstrim apapun, tentu bukan merupakan masalah, bahkan, kalau menurut saya, menjadi sebuah keberuntungan. Saya yang tiap hari menjadi roda penggerak kapitalisme selalu menyelipkan mimpi untuk bisa sekali saja meneriakkan "LAWAN" selayaknya para pengikut marx sejati ( Oke, ini berlebihan, secara saya malah giat berteriak : ayo jualan yang banyak ). Tapi,

Bagaimana kita mengimplementasikan ke dalam arus pergaulan sehari hari itulah yang lebih menantang. Anda yang menganggap bahwa " berdandan itu harga mati " pasti akan mengalami friksi dalam pergaulan, misalnya, dengan saya yang seenaknya saja datang ke kantor dengan pose baru bangun tidur. Atau yang selama ini memegang kaidah " yang penting isi, bukan pembungkus " pasti sebel banget dengan kelakuan artis tapi plegak pleguk saat di minta menjalankan job desknya #okefix, ini tsurhat.

Tapi apakah semua hal idealis yang kita junjung tinggi tersebut akan membuat orang lain menjadi less human, less worth, dan tidak layak hidup ?. Nope. Dan apakah ilmu pengetahuan yang kita miliki menjadikan kita " lebih " daripada yang lain ? Semua akan mejawab : Tidak. Lantas, kalau ternyata "value" dari diri kita tidak menjadikan kita " lebih " buat apa kita ngotot mencarinya ? Yang religius mendalami mengaji, kalau tidak ingin lebih, lantas ingin apa lagi ? . Yang materialis mati matian nyari duit demi kepemilikan aset, dan tadi kita bilang, tidak ingin lebih, lantas ingin apa lagi ?.

Untuk saat ini saya tidak bisa menjawab. Itulah kenapa saya memberi judul tulisan ini " refleksi kebingungan ". Yang agamis akan menjawab: karena upahnya surga makanya jalannya memang berat, dan hanya bisa di capai dengan ridhlo Tuhan. Loh, jadi karena upah? . Yang lebih realis akan menjawab : Karena memang hidup ini untuk di jalani, bukan untuk di pikirkan. Lah, situ bikin mobil buat sarana berjalan, emangnya gak pake pikiran ? . Yang sedang jatuh cinta akan menjawab : memang susah untuk di jelaskan, dan tidak akan saya bantah, karena menasihati orang yang sedang jatuh cinta itu pekerjaan sia sia belaka.

Jadi untuk apa kita berusaha keras mengisi gelas kosong dengan segala ilmu ?

Bagi saya : untuk meredam semua ego dan menjalani hidup harmoni dengan seisi makhluk. Untuk menjadi bagian yang teramat sangat kecil dalam sebuah proses perdamaian, di muka bumi ini. Sebab perdamaian di muka bos hanya tercapai bila target penjualan yang jumlah rupiahnya nominal sepuluh digit kita persembahkan di akhir bulan.

Iyo opo ora...









Tuesday, February 17, 2015

Found (not so ) New Prophet.

Bukan, saya bukan sedang menantang para selebtwit/twat atau para begawan di luar sana dengan memberi judul tulisan saya ini " Found ( not so ) New Prophet ". Tentu saya tidak seberani itu. Judul ini semata mata karena saya pribadi menyukainya untuk alasan saya pribadi, dan saya berniat membaginya dalam semesta dunia maya raya.

Saya adalah silent reader dalam hiruk pikuk keramaian jagad kicauan "twitter". Saya lebih banyak menyimak, ( tersenyum ), dan kemudian mencari berita berita terkait dalam gadget saya. Meskipun list following saya relatif tidak banyak, dan follower saya juga kebanyakan bot marketing, tapi saya merasa sangat terbantu dengan kicauan dari akun akun yang saya ikuti.

Kenapa demikian ? Karena mereka seru dan rajin twitwar memberi perspektif baru kepada saya.

Salah satunya adalah akun  kamen  yang rajin saya ikuti setiap hari. Apakah kicauannya penting ? Terkadang. Kamen tidak selalu membenarkan issue issue terbaru meskipun keseluruhan circlenya mengamini dengan seksama. Jadi apa yang menarik ? Tunggu dulu, biarkan saya berpikir keras mengenai sisi menarik  cerdas akun ini.

Saya yakin, ada satu hal yang paling di butuhkan oleh segenap umat manusia, baik level pejabat yang belakangan ini sering kelahi ataupun selebritis, selebtwit, kantoran, travel blogger, sosialita , atau yang gak ngapa ngapain sekalipun. Pasti banyak yang menebak kebutuhan itu adalah cinta, pekerjaan, keluarga atau malah eternal enemy ? . Hampir benar, karena dari semua hal hal penting yang saya sebutkan tadi, ada satu intisari dari semuanya : kepastian. Kalau sudah cinta biasanya berlanjut minta kepastian, ya toh ?

Lalu apa hubungan kepastian dan akun  kamen ini ? Yup, karena itulah yang sebenarnya menjadi kekuatan beliau. KEPASTIAN. Berikan kasus apapun kepada kamen dan dia akan menjawabnya dengan journal  hasil pengolahan data yang bisa di percaya keakuratan kepastiannya. Dan karena keahlian memberikan kepastian inilah, maka saya menganggapnya nabi baru, well setidaknya untuk saya.

Sebelum berfikir untuk menyanggah kalimat saya di atas, biarkan saya berargumen dengan dua pilihan dalam kehidupan nyata :


Taruhlah, umpamanya, anda sedang mengembangkan bisnis atau mencoba start up bisnis baru, pasti banyak pertimbangan yang harus anda kalkulasi. Bagaimana membaca prospek, bagaimana strategi marketing, pertimbangan biaya dan sebagainya dan sebagainya. Di tengah kebimbangan tersebut, anda memutuskan menemui seorang ( bukan nama sebenarnya ) Kamen Eden, tokoh agama terkemuka, di segani, dan juga mengklaim di kenal banyak membantu kesuksesan para pebisnis. Menurut cerita yang beredar, kewajiban etis bila ingin di bantu adalah memberi donasi ( dalam jumlah banyak ) kepada Kamen Eden dan yayasannya tersebut. Menurut cerita loh ya. 

Saya yakin, tidak ada yang mau di anggap berkurang kewarasannya bila memakai jalan via kamen eden ini. Apalagi bila anda warga twitland, bisa di bully geng sini sono ples segala sirkelnya selama tujuh hari tujuh malam.

Lain halnya jika anda memutuskan untuk menyimak twit  kamen, karena segala sesuatu adalah data yang bila di olah dengan benar dengan cara (di) sederhana (kan), maka start up maupun expansi bisnis adalah sebuah kepastian, keniscayaan. Tidak percaya ? Ini sains loh, analisis terstruktur, dan terbukti selama ratusan tahun. Setiap multinasyenel maupun global company memakai merketing intelijen dan menerapkan kaidah ilmu statistik sebelum melempar produk ke pasaran. Dan karena keakuratannya, maka perusahaan perusahaan rela mengeluarkan dana besar untuk membayar jasa ini. Perkara teknisnya sih, jatohnya ke ilmu marketing yang lain yang tidak akan saya bahas di postingan pertama ini.

Kalau ujung ujungnya bisa memberikan kepastian dalam keuntungan bisnis, patutlah saya sebut nabi. 

Tertarik berbisnis dan ingin membuat start up yang jitu? Yuk rame rame belajar dari beliau. Perkara mengerti pembahasannya atau tidak sih, urusan nantilah ya. Karena seperti kata Alm. Bob Sadino mengenai bisnis : yang penting jalani saja dulu.